Ad hominem
Serangan terhadap pribadi
Circumstantial ad hominem
Serangan berdasarkan keadaan
Poisoning the well
Menyerang kredibilitas sebelum argumen
Appeal to motive
Menggugat niat lawan
Tone policing
Polisi nada (Mengkritik cara berbicara)
Traitorous critic fallacy (ergo decedo, 'therefore I leave')
Mengabaikan kritik dengan meninggalkan argumen
Bulverism (psychogenetic fallacy)
Menyerang asal usul argumen
Appeal to authority (argument from authority, argumentum ad verecundiam)
Bersandar otoritas
Appeal to accomplishment
Bersandar prestasi
Courtier's reply
Jawaban penjilat / Menolak argumen dengan elitisme
Appeal to consequences (argumentum ad consequentiam)
Mengklaim kebenaran berdasarkan akibat
Appeal to emotion
Bersandar emosi
Appeal to fear
Menggunakan ketakutan untuk membujuk
Appeal to flattery
Menggunakan pujian untuk meyakinkan
Appeal to pity (argumentum ad misericordiam)
Mengandalkan rasa kasihan
Appeal to ridicule
Mengolok-olok untuk merendahkan argumen
Appeal to spite
Menggunakan kebencian untuk membujuk
Judgmental language
Bahasa yang menghakimi
Pooh-pooh
Menyepelekan argumen
Style over substance
Fokus pada gaya, bukan isi
Wishful thinking
Berharap sesuatu terjadi
Appeal to nature
Menganggap yang alami lebih baik
Appeal to novelty (argumentum novitatis, argumentum ad antiquitatis)
Menganggap yang baru lebih baik
Appeal to poverty (argumentum ad Lazarum)
Menggunakan kemiskinan sebagai argumen
Appeal to tradition (argumentum ad antiquitatem)
Menganggap yang tradisional lebih baik
Appeal to wealth (argumentum ad crumenam)
Menganggap yang kaya lebih benar
Argumentum ad baculum (appeal to the stick, appeal to force, appeal to threat)
Menggunakan ancaman untuk membujuk
Argumentum ad populum (appeal to widespread belief, bandwagon argument, appeal to the majority, appeal to the people)
Mengandalkan kepercayaan umum
Association fallacy (guilt by association and honor by association)
Menghubungkan seseorang dengan hal negatif
Logic chopping fallacy (nit-picking, trivial objections)
Picik (Menyerang argumen dengan detail kecil)
Ipse dixit (bare assertion fallacy)
Pernyataan kosong (Mengklaim benar tanpa bukti)
Chronological snobbery
Menganggap yang modern lebih baik
Fallacy of relative privation (also known as "appeal to worse problems" or "not as bad as")
Mengabaikan masalah karena ada yang lebih buruk
Genetic fallacy
Menghukum argumen berdasarkan asal-usulnya
I'm entitled to my opinion
Menganggap pendapat pribadi setara dengan fakta
Moralistic fallacy
Menganggap yang baik haruslah yang ada
Naturalistic fallacy
Mengasumsikan bahwa fakta menciptakan norma
Is–ought fallacy[107]
Mengacaukan fakta dengan norma
Naturalistic fallacy fallacy[108] (anti-naturalistic fallacy)[109]
Menyerang argumen yang menolak naturalistic fallacy
Straw man fallacy
Argumen boneka jerami (Menyajikan argumen lawan dengan cara yang lemah)
Texas sharpshooter fallacy
Mengabaikan data yang bertentangan dengan kesimpulan
Tu quoque ('you too' – appeal to hypocrisy, whataboutism)
Kamu juga (Menggunakan hipokrisi sebagai argumen)
Two wrongs make a right
Dua salah jadi benar (Menganggap kesalahan dibenarkan oleh kesalahan lain)
Vacuous truth
Mengklaim kebenaran tanpa substansi